Search
 
Follow on Facebook | Apakabardunia.com Follow on Twitter | Apakabardunia.com Follow on Plurk | Apakabardunia.com RSS Feed | Apakabardunia.com
Online Business - Computer Music - Architecture Design

Kutub “Tanah Suci” yang Terancam

Uncategorized
366 views

[caption id="" align="aligncenter" width="340" caption="Daratan berwarna putih yang lenyap - pameran khusus global warming dan konservasi kutub (gambar dari penyelenggara pameran)"]Daratan berwarna putih yang lenyap - pameran khusus global warming dan konservasi kutub (gambar dari penyelenggara pameran)[/caption]

Sejak  ribuan tahun, Kutub Utara dan Selatan dipandang oleh manusia sebagai "tempat sakral" dan ia adalah "sebidang tanah suci terakhir dari bumi." Daerah kutub dengan glasier yang  megah besar, langit biru, aurora dengan perubahannya yang berliku, telah membangkitkan impian orang yang tak terlukiskan.


Namun, ketika umat manusia memasuki abad ke-21, pemanasan global dan efek rumah kaca telah membuat  kutub yang bewarna putih mulai mencair; membuat taman surgawi  bayi pinguin dan beruang kutub menghadapi krisis kelangsungan hidupnya.


Virus prasejarah mematikan yang telah dibekukan lebih dari 10 juta tahun akan muncul dari kolong langit. Kutub Utara dan Selatan berada dalam kondisi bahaya, kehidupan manusia juga terancam secara serius.


Peraih  Nobel 1997 dalam bidang Fisika Steven Chu, etnis China dari Amerika Serikat, telah dipilih oleh Presiden Obama sebagai Menteri Departemen Energi. Ia menyesalkan rusaknya lingkungan kegiatan beruang kutub Utara, dan ancaman krisis kelangsungan hidup umat manusia yang sudah di depan mata."Bila tingkat permukaan air laut naik satu meter, banyak penduduk yang akan mati; bila naik hingga tiga meter, total angka kematian penduduk akan naik sampai puluhan juta bahkan ratusan juta lebih.


Selain dari itu akan terjadi bencana lingkungan yaitu perluasan gurun pasir dan kekurangan makanan, tetapi banyak orang yang masih tidak mengetahui krisis lingkungan, atau tidak merasa atau bahkan tidak percaya”.


Untuk menyelamatkan daratan kutub yang hilang, sudah empat kali diadakan pertemuan tingkat dunia, "Tahun Kutub Internasional." Tahun Kutub Internasional Pertama: (tahun 1882-1883) telah membuka kajian ilmiah dari daratan kutub.


Tahun Kutub Internasional Kedua: (1932-1933) diikuti oleh 40 negara, dibangun  40 buah stasiun pengamatan sepanjang tahun di wilayah Kutub Utara. Tahun Kutub Internasional Ketiga: (1957-1958) diikuti oleh 67 negara, dibangun 67 buah stasiun pengamatan sepanjang tahun di wilayah Kutub Selatan, mulai secara sistematik melakukan pengamatan dan investigasi di Kutub Selatan.


Tahun Kutub Internasional Keempat: (2007-2008)  disponsori oleh The International Council for Science (ICSU) dan World Meteorological Organization, mendapat tanggapan positif dari pemerintah berbagai negara, organisasi iptek dan para ilmuwan, total lebih dari 60 negara dan 39 organisasi internasional, 50.000 lebih ilmuwan yang  berpartisipasi, telah mempresentasikan  200 lebih proposal proyek.


Agar "Tahun Kutub Internasional" keempat  berefek, pada  11 Desember lalu, di National Museum of Natural Science  di Taiwan mengadakan "Pameran khusus daratan bewarna putih yang hilang -   pemanasan global dan konservasi kutub".


Sebanyak 100 buah karya berharga yang diambil dengan kamera oleh fotografer  Taiwan yang berulang kali mengunjungi  dan melakukan ekspedisi di wilayah kutub serta  materi foto berpengaruh di wilayah kutub yang diambil oleh Center for Space and Remote Sensing National Central University dengan menggunakan Sateli Formosa II, menampakkan pemandangan alam, binatang, tanaman dan daerah kutub serta gaya hidup manusia, yang membuat orang kagum.


Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Chang Cheng Lung mengatakan:  Alasan mengapa foto ini berharga adalah karena mereka adalah saksi waktu. Jika suhu kutub terus meningkat, pemandangan yang menakjubkan, hewan yang disayanginya mungkin hilang dalam waktu singkat.


Direktur Lembaga eksekutif Environmental Protection Administration dan Direktur Departemen Perencanaan dan Konstruksi  Zhang Longsheng, telah menginjakkan kakinya di 6 benua di seluruh dunia, tidak hanya berkomitmen untuk meneliti peninggalan dunia serta perlindungan alam, tapi juga beberapa melekukan  eksplorasi di kutub, mencatat dan mengambil foto. Saat ini terdapat sejumlah foto dalam pameran khusus ini, beberapa karya foto Pinguin dialah yang mengambilnya.


Pameran khusus ini  berlangsung selama 25 hari, ditutup pada  4 Januari 2009. Pameran ini juga akan ditampilkan di Taipei, Taichung, Kaohsiung, Hualien.



Menyelamatkan kutub dan memperbaiki lingkungan hidup umat manusia telah menjadi tugas utama di seluruh dunia, dan semakin banyak orang yang memperhatikannya.




[caption id="" align="aligncenter" width="340" caption="Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Chang Cheng Lung sedang mengambil foto di daerah Kutub (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)"]Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Chang Cheng Lung sedang mengambil foto di daerah Kutub (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)[/caption]





[caption id="" align="aligncenter" width="340" caption="Anak-anak sedang melihat foto pameran (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)"]Anak-anak sedang melihat foto pameran (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)[/caption]





[caption id="" align="aligncenter" width="340" caption="Direktur Lembaga Eksekutif Environmental Protection Administration dan Direktur Departemen Perencanaan dan Konstruksi Zhang Longsheng (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)"]Direktur Lembaga Eksekutif Environmental Protection Administration dan Direktur Departemen Perencanaan dan Konstruksi Zhang Longsheng (Foto diberikan oleh penyelenggara pameran)[/caption]



Sumber :
http://www.erabaru.or.id/20090110865/kutub-tanah-suci-yang-terancam.html

MyJalah - Majalah Elektronik GRATISan untuk Para Pencinta Informasi
Bookmark and Share

Artikel Terkait

Artikel Pilihan

 

4 Komentar

  1. icha  •  2009-01-16 09:50:14
    AVATAR
    tolong manusia sadar anak cucu,Tuhan sdh memberi gratis keindahan n kenyamanan masak memlihara aja g mau sech...kebangetan dech g ada bersyukurnya
  2. Idar  •  2009-01-16 11:50:42
    AVATAR
    Kebanyakan orang ga tahu atau ga mau tahu, tugas kita yang tahu untuk menyampaikannya
  3. radhite  •  2009-01-16 19:18:05
    AVATAR
    Manusia selalu menyesal belakangan, manusia hanya ingat ketika ada bencana. Tapi gw yakin manusia bisa berubah ketika ada di ujung kehancuran.
  4. ryan  •  2009-01-16 22:46:15
    AVATAR
    wah... wah... sepertinya ramalan jucelino akan terjadi, dan filmnya
    Mr. algore akan menjadi film termantap nich.
    kira-kira benar juga gak ya perkiraan perhitungan dari bangsa maya.
    untuk semua itu biarkan saja menjadi rahasia tuhan, dan sebagai
    penerus yang bisa dikatain tak tau diri dan melewati ambang batas
    sudah sepatutnya melihat kenyataan dan berusaha yang terbaik untuk
    kelangsungan kehidupan atau jangan2 kita akan seperti film
    "the city of ember" yaa.... (korban film banget sich) gak juga aahh.:D
    lam kenal semua

Tuliskan Komentarmu



  • Advertisment



    Geraibunda penyedia kebutuhan Anda

    Club CooeeClub Cooee
    Club CooeeClub Cooee
  • kategori

  • Facebook Fans


    Terima kasih telah menjadi fans
  • Google Friend Connect

  • Online User